Asap Karhutla Menyebrangi Perbatasan
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meluas hingga mengancam kualitas udara negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura. Asap dari karhutla di Kalimantan dan Sumatra menyelimuti wilayah kedua negara tersebut pada Oktober 2026 dan mendorong kualitas udara ke kategori tidak sehat.
Di Singapura, Meteorological Service Singapore melaporkan indeks PSI 134–192 pada Jumat (9/10/2026) pukul 17.00 waktu setempat — masuk kategori tidak sehat. Pengukuran PM2,5 per jam mencapai 91–134 mikrogram per meter kubik. Pada Selasa (13/10), indeks PSI 24 jam mencapai 172 di wilayah barat, 169 di wilayah tengah, 154 di wilayah timur, 134 di wilayah selatan, dan 127 di wilayah utara Singapura.
Data IQAir pada Rabu (14/10/2026) mencatat nilai US AQI Singapura sebesar 193 dan Kuala Lumpur sebesar 177, dengan partikel PM2,5 mendominasi udara di kedua wilayah. Kondisi ini membuat aktivitas luar ruangan perlu mendapat perhatian khusus.
Sekolah di Malaysia Ditutup, PdPR Diberlakukan
Di Malaysia, Departemen Lingkungan Hidup mencatat 38 lokasi dengan kualitas udara tidak sehat pada 8 Oktober 2026. Segamat mencatat API 190, sedangkan Kluang mencatat 181. Kementerian Pendidikan Malaysia menutup sekolah dan lembaga pendidikan di Negeri Sembilan, Selangor, Melaka, Johor, Pahang, dan Kuala Lumpur mulai Jumat 9 Oktober 2026 setelah sejumlah wilayah mencatat kualitas udara tidak sehat.
Lembaga pendidikan yang terdampak dialihkan ke pengajaran dan pembelajaran berbasis rumah (PdPR). Menurut laporan Free Malaysia Today, beberapa sekolah mulai dibuka kembali pada Selasa 13 Oktober 2026. Namun, sekolah di Johor serta empat distrik di Kuala Lumpur dan Selangor masih ditutup karena paparan asap — meliputi Bangsar dan Pudu di Kuala Lumpur, serta Hulu Langat, Gombak, dan Petaling Perdana di Selangor.
Sumber Asap: Ratusan Titik Panas di Kalimantan-Sumatera
ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mencatat 327 titik panas di Kalimantan dan 191 titik panas di Sumatra pada 29 September 2026. Wakil Direktur Jenderal Departemen Lingkungan Hidup Malaysia, Azuri Azizah Saedon, menyampaikan temuan pemantauan regional yang menunjukkan kabut asap lintas batas di Semenanjung Malaysia, Singapura, dan bagian barat laut Pulau Kalimantan.
Sementara itu, Kementerian Kehutanan RI mencatat 793 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia hingga 10 Oktober pukul 21.00 WIB — Kalimantan Tengah mencatat 288 titik, Kalimantan Barat 44 titik, dan Kalimantan Selatan 28 titik. Pada 11 Oktober, Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) melaporkan asap dari Sumatra bagian selatan dan Kalimantan Barat terpantau bergerak menuju Singapura, dan pergerakan itu diperkirakan berlanjut karena angin bertiup dari tenggara atau selatan.
Penerbangan Terganggu, Subsidi Kesehatan Disiapkan
Kabut asap juga mengganggu aktivitas penerbangan di Malaysia dan Singapura. Beberapa maskapai membatalkan penerbangan hingga Rabu (14/10/2026) akibat jarak pandang yang menurun. Salah satu rute yang dibatalkan adalah penerbangan dari Bandara Sultan Abdul Aziz Shah menuju Bandara Seletar di Singapura, yang berlangsung sejak Sabtu (10/10/2026); penumpang terdampak dijadwalkan ulang via Kuala Lumpur–Changi.
Pemerintah Singapura kembali menyediakan subsidi layanan perawatan untuk penyakit yang disebabkan kabut asap. Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung menyampaikan kebijakan tersebut diresmikan pada 12 Oktober 2026 — program serupa pernah dilakukan pada 2015 akibat karhutla di Indonesia. Di Indonesia sendiri, asap tebal dan jarak pandang rendah juga menghambat pengerahan helikopter water bombing di Kalimantan Tengah.



