Trump: AS Mungkin Bergabung dengan Saudi Gempur Houthi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan Arab Saudi dalam operasi militer terhadap kelompok Houthi di Yaman. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di pelataran Gedung Putih pada Sabtu (10/10/2026) waktu setempat.

"Mungkin saja. Kami sedang meninjaunya," kata Trump menanggapi pertanyaan terkait potensi keterlibatan AS membantu serangan militer Arab Saudi, seperti dikutip CNBC International. "Kami baru saja mengetahui tentang serangan terkini itu. Jadi, kami akan mengambil keputusan. Kami bertindak sangat cepat," ujarnya.

Sikap tersebut muncul menyusul serangan mematikan Houthi yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada hari yang sama, yang menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya. Insiden itu merupakan serangan ketiga yang menghantam bandara ibu kota Saudi tersebut dalam sepekan terakhir.

Saudi Minta Bantuan Pertahanan Darurat ke AS

Sebelum pernyataan Trump muncul, dua pejabat pemerintah Arab Saudi menyampaikan kepada MS NOW bahwa pihak kerajaan sudah melayangkan permohonan bantuan pertahanan secara darurat kepada Amerika Serikat pascainsiden penyerangan tersebut. Salah satu sumber pejabat internal itu adalah diplomat senior di Kementerian Luar Negeri Saudi yang meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas isu militer ini.

Trump menyebut serangan terhadap bandara itu sebagai peristiwa yang mengerikan dan memuji kemampuan militer Arab Saudi. ujarnya, seperti dilaporkan CNN Indonesia dengan mengutip Al Jazeera, seraya memuji kemampuan militer Arab Saudi dan menyebut serangan itu peristiwa yang mengerikan.

Jika Washington memutuskan terlibat langsung, langkah tersebut berpotensi memperluas cakupan konflik yang selama ini melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi. Namun hingga pernyataan itu disampaikan, Trump belum mengumumkan keputusan akhir mengenai bentuk maupun waktu kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat.

Houthi Ancam Balas jika AS Turun Tangan

Kelompok Houthi memperingatkan Amerika Serikat akan menghadapi serangan terhadap kepentingannya di kawasan jika Washington memutuskan bergabung dalam operasi militer Arab Saudi melawan kelompok tersebut. Ancaman itu disampaikan setelah Trump membuka kemungkinan keterlibatan negaranya.

"Akan ada respons cepat dan menyakitkan yang menargetkan AS dan seluruh kepentingannya di kawasan tersebut," kata seorang pejabat senior Houthi, seperti dikutip NHK Japan pada Selasa (13/10/2026). Pejabat itu tidak disebutkan namanya dalam laporan tersebut.

Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah Amerika Serikat akan meningkatkan dukungannya menjadi operasi militer langsung, atau tetap mengutamakan bantuan intelijen dan pertahanan kepada Arab Saudi? Sementara itu, otoritas Saudi memperpanjang penutupan Bandara King Khalid hingga Sabtu (17/10) karena kerusakan yang ditimbulkan serangan.

Nasib Serangan AS ke Iran Masih Digantung

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga ditanya apakah serangan Houthi di Bandara Riyadh akan mengubah keputusannya untuk tidak melancarkan serangan terhadap Iran hingga pemilu sela berakhir. "Kami akan meninjaunya," jawab Trump singkat.

Ketegangan antara Washington dan Teheran sendiri terus meningkat di jalur maritim. Di Selat Hormuz, insiden terhadap kapal-kapal tanker dan blokade maritim AS terhadap Iran menambah lapisan baru pada krisis kawasan. Keputusan Trump dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah konflik Timur Tengah meluas menjadi konfrontasi yang lebih besar.