Serangan Houthi Guncang Rencana Umrah
Serangan kelompok Houthi ke Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober 2026 — yang menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya — mengguncang rencana ibadah umrah ribuan jemaah. Otoritas Arab Saudi menutup bandara hingga Sabtu (17/10/2026) dan sejumlah penerbangan internasional terganggu atau dibatalkan.
Houthi juga memperingatkan maskapai, pekerja, dan wisatawan agar menghindari bandara serta wilayah udara Saudi, dengan pengecualian bandara di Makkah dan Madinah. Indonesia tercatat sebagai negara dengan kontribusi kunjungan umrah terbesar kedua secara global, dengan rata-rata 1,2 juta hingga 1,5 juta orang setiap tahun, sehingga gangguan ini berdampak luas bagi calon jemaah Tanah Air.

Cerita Jemaah Depok di Tanah Suci
Di Makkah, pemantauan media pada Senin (12/10) menunjukkan jemaah dari berbagai negara tetap beribadah di Masjidil Haram, sementara aparat keamanan berjaga di akses masuk dan jalan utama. Otoritas Saudi menyatakan kegiatan ibadah di Makkah dan Madinah tetap berjalan normal.
Seorang jemaah asal Depok, Fatimah, mengatakan dirinya sempat terkejut mendengar kabar serangan dan menanyakan situasi kepada pemandu perjalanan umrah. "Kaget, sempat nanya ke petugas pemandu tur umrah akan kondisi saat ini, tapi mereka mencoba menenangkan ya insyaallah kejadian ini akan segera dapat ditangani oleh pemerintah Arab Saudi," ujar Fatimah.
Jemaah lainnya, Hani, mengatakan tetap memusatkan perhatian pada ibadah selama berada di Tanah Suci. "Sudah sampai di sini, aku sih fokus ibadah aja ya insyaallah aman," tutur Hani.
Keberangkatan Tertunda, Jemaah Tertahan
Dampak gangguan penerbangan tidak hanya menyangkut keselamatan WNI di sekitar lokasi serangan. Penutupan Bandara King Khalid juga mengacaukan rencana perjalanan penumpang, termasuk calon jemaah umrah dari Indonesia. Sejumlah calon jemaah tertahan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Senin (12/10), karena keberangkatan mereka terganggu.
Kementerian Haji dan Umrah menyatakan penjadwalan ulang akan dilakukan setelah situasi keamanan di Arab Saudi membaik. kata pejabat kementerian yang menangani pendataan jemaah terdampak, seraya menegaskan penjadwalan ulang dilakukan karena permasalahan memang berada di Arab Saudi. KBRI Riyadh juga telah memberikan bantuan kepada tiga WNI yang terdampak gangguan penerbangan di bandara tersebut.
Imbauan Tunda Umrah dan Desakan ke Pemerintah
Malaysia mengimbau warganya untuk sementara menunda perjalanan umrah ke Arab Saudi. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan meski tidak ada insiden keamanan di Mekkah, ledakan rudal di Riyadh telah menimbulkan kekhawatiran keamanan. Sementara itu, Kementerian Haji dan Umrah Indonesia mengimbau WNI di Arab Saudi, termasuk jemaah umrah, untuk tetap waspada dan mengutamakan keselamatan.
Pengamat ekonomi syariah dari Universitas Paramadina, Imas Damayanti, mengusulkan penundaan sementara keberangkatan jemaah umrah Indonesia, dengan alasan keselamatan jemaah jauh lebih utama dibandingkan pertimbangan ekonomi. DPR RI melalui Wakil Ketua Komisi I Sukamta mendesak pemerintah menjamin keselamatan WNI dan memfasilitasi jemaah yang batal berangkat. ujarnya, seraya menegaskan keputusan perjalanan umrah harus mempertimbangkan perkembangan faktual dan arahan otoritas yang berwenang.



