Puasa dan Peradangan dalam Tubuh
Puasa telah dipelajari secara luas dalam bentuk puasa intermiten maupun puasa Ramadan. Salah satu temuan paling konsisten adalah efeknya terhadap peradangan: tinjauan terhadap 18 studi pada 2022 membuktikan puasa intermiten secara signifikan menurunkan kadar C-reactive protein (CRP), penanda peradangan dalam darah.
Peradangan kronis berkaitan dengan berbagai penyakit seperti jantung, diabetes, dan kanker. Dengan menekan penanda peradangan, puasa diyakini membantu melindungi tubuh dari penyakit-penyakit tersebut. Para peneliti juga mencatat terjadinya autofagi, yaitu proses pembersihan dan daur ulang sel-sel rusak selama berpuasa.
Jantung, Kolesterol, dan Berat Badan
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Penelitian menunjukkan puasa selang-seling mampu menurunkan kadar kolesterol total dan berbagai faktor risiko kardiovaskular lainnya pada individu dengan kelebihan berat badan. PMC Review 2024 menambahkan bahwa puasa meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki metabolisme lipid, dan menurunkan tekanan darah.
Dari sisi berat badan, tinjauan ilmiah 2022 menemukan puasa intermiten efektif menurunkan berat badan dan lemak visceral — lemak di rongga perut yang berkaitan erat dengan risiko penyakit metabolik — dibandingkan sekadar membatasi kalori setiap hari.
Otak dan Sistem Pencernaan Ikut Diuntungkan
Penelitian Dr. Mark Mattson dari National Institute on Aging menemukan puasa dapat meningkatkan fungsi kognitif dan melindungi otak dari penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Sementara itu, selama berpuasa sistem pencernaan mendapat kesempatan beristirahat sehingga sel-sel saluran cerna dapat memperbaiki diri.
Penelitian pada orang yang berpuasa Ramadan juga menemukan tidak ada perubahan berbahaya pada unsur kimia darah. Kadar gula darah memang menurun menjelang magrib, tetapi tidak sampai membahayakan kesehatan.
Catatan Penting: Tidak Semua Orang Cocok Berpuasa
Meski bukti ilmiahnya menjanjikan, puasa tidak cocok untuk semua orang. Penderita diabetes, penyakit jantung, gangguan makan, ibu hamil dan menyusui, serta lansia dengan kondisi tertentu sebaiknya berkonsultasi ke dokter sebelum berpuasa.
Bagi yang berpuasa, pastikan asupan cairan cukup saat sahur dan berbuka, serta hindari makan berlebihan saat berbuka agar manfaat puasa tidak hilang.




