277 Ribu Kasus ISPA di 7 Provinsi Terdampak Karhutla
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Angka tersebut berdasarkan laporan Pusat Operasi Kedaruratan Kesehatan (PHEOC) Kemenkes yang memantau 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi per 12 Oktober 2026.
Kemenkes menjelaskan, "Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun." Paparannya dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata dan kulit, perburukan asma serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Balita Paling Rentan Terdampak Asap
Dari total 277.075 kasus, sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen dialami balita berusia 0–5 tahun. Anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih, selain lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja luar ruangan.
Kemenkes mencatat lebih dari 13 juta penduduk berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap karhutla. Jumlah kasus ISPA ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan 113.336 kasus pada awal September 2026 — menandakan krisis kesehatan yang terus memburuk seiring meluasnya kebakaran.
Kandungan Berbahaya dalam Asap Karhutla
Partikel halus PM2.5 dalam asap karhutla menjadi perhatian utama karena ukurannya memungkinkan partikel masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Risiko gangguan kesehatan meningkat ketika masyarakat terpapar asap dalam waktu lama atau berada di wilayah dengan kualitas udara buruk.
Kemenkes mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi paparan asap. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi dan penggunaan masker yang memadai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Penanganan Kemenkes di Lapangan
Untuk menangani dampak karhutla, Kemenkes telah mengerahkan 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan serta menyalurkan berbagai perlengkapan medis, termasuk 2.892.040 masker, 280 unit konsentrator oksigen, 41 ribu pasang sarung tangan medis, 4.908 alat pelindung diri (APD), serta obat-obatan dan vitamin.
Kemenkes juga menyiagakan 1.691 puskesmas dan 36 rumah sakit rujukan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terdampak. Selain itu, pos kesehatan, ruang oksigen, dan program Oase Udara di sejumlah wilayah Kalimantan disediakan untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen warga yang mengalami sesak napas.



