Setiap Menit Berarti Saat Stroke Terjadi
Stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu, baik karena sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Sel-sel otak mulai mati dalam hitungan menit tanpa oksigen, sehingga penanganan yang cepat dapat mengurangi kerusakan otak dan menentukan keselamatan penderita.
Menurut CDC Amerika Serikat, pengobatan stroke yang paling efektif hanya tersedia bila stroke dikenali dan didiagnosis dalam 3 jam pertama sejak gejala muncul. Di Indonesia, Kemenkes menyebut periode emas penanganan stroke sekitar 4,5 jam — semakin cepat penderita dibawa ke rumah sakit, semakin kecil risiko kematian dan kecacatan permanen.
Kenali Gejala dengan SeGeRa ke RS
Kemenkes RI memperkenalkan akronim SeGeRa Ke RS agar masyarakat mudah mengenali gejala stroke: Senyum tidak simetris atau mencong ke satu sisi; Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba; bicaRa pelo atau sulit dimengerti; Kebas atau kesemutan separuh badan; Rabun atau pandangan kabur mendadak; serta Sakit kepala hebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Akronim ini sejalan dengan metode FAST yang dipakai dunia internasional: Face (minta penderita tersenyum — apakah satu sisi wajah turun?), Arms (minta angkat kedua lengan — apakah satu lengan melorot?), Speech (minta ulangi kalimat sederhana — apakah pelo atau aneh?), Time (bila ada tanda-tanda itu, segera hubungi layanan darurat). Catat waktu pertama kali gejala muncul karena informasi ini membantu dokter menentukan penanganan terbaik.
Pertolongan Pertama yang Benar
Ketika tanda-tanda stroke muncul, pertolongan yang harus diberikan adalah segera membawa penderita ke rumah sakit atau menghubungi layanan gawat darurat 119. Jangan membuang waktu sedetik pun — jangan menunggu hingga gejala membaik sendiri. Jangan mengemudi sendiri ke rumah sakit bila memungkinkan; naik ambulans memungkinkan tenaga medis memulai penanganan penyelamatan jiwa dalam perjalanan.
Menurut anggota PERDOSSI dr. Zicky Yombana, banyak masyarakat tidak memahami pertolongan pertama pada serangan stroke sehingga penderita kerap mendapat pertolongan yang salah. "Ketika pertolongannya salah, outcome-nya orang-orang ini mengalami kecacatan dan bahkan kematian karena telat penanganan," ujarnya dalam gelar wicara Kemenkes.
Yang Tidak Boleh Dilakukan: Jangan Tusuk Jari!
Hoaks tentang stroke masih bertebaran, salah satunya anggapan menusuk jari penderita bisa menyembuhkan stroke. PERDOSSI menegaskan: jangan pernah menusuk jari penderita, dan jangan memberikan minum — langsung bawa ke rumah sakit. Tindakan yang salah hanya membuang waktu berharga dalam periode emas penanganan.
Pencegahan tetap lebih baik. Menurut PERDOSSI, perhatikan faktor risiko sejak dini, terutama bagi usia di atas 40 tahun dan yang memiliki riwayat keluarga dengan tekanan darah tinggi, diabetes, serangan jantung, dan stroke. Bila Anda atau keluarga memiliki faktor risiko tersebut, konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan untuk deteksi dini dan pengendalian risiko.




