IDAI: 8 Langkah Lindungi Anak dari Asap Karhutla
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memburuk dengan cepat dan berdampak pada kesehatan pernapasan anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun mengimbau orangtua lebih waspada dan mengeluarkan 8 rekomendasi untuk melindungi anak dari asap karhutla.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menyatakan keprihatinannya terhadap dampak karhutla bagi kesehatan anak. "Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan," katanya. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya bagi saluran pernapasan anak.
Mengapa Anak Paling Rentan
Mengapa anak paling rentan? Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain, karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi. Dampak terbesar terutama pada anak usia di bawah 5 tahun.
Anak menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya, sementara sistem pernapasan dan imunnya masih berkembang. Asap karhutla tidak hanya memicu ISPA, tetapi juga dapat memperburuk asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya.
8 Rekomendasi IDAI untuk Orangtua
Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI merekomendasikan delapan langkah pencegahan: (1) pantau kualitas udara (AQI atau ISPU) secara rutin; (2) siapkan ruang bersih di rumah dengan sedikit jendela dan pintu, gunakan pembersih udara portabel non-ozon bila tersedia; (3) tutup pintu dan jendela, atur AC agar tidak menarik udara luar; (4) hindari sumber polusi dalam ruangan seperti rokok, kompor, lilin, dan semprotan aerosol; (5) batasi aktivitas fisik di luar ruangan; (6) gunakan masker untuk anak usia 2 tahun ke atas dan kacamata bila harus keluar; (7) pastikan obat rutin tersedia bagi anak dengan asma atau alergi; (8) segera cari bantuan medis bila anak kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan dan minum.
Aturan Sekolah dan Kapan ke Dokter
Perlindungan anak selama karhutla juga mencakup kegiatan sekolah. Moda pembelajaran ditentukan pemerintah daerah berdasarkan nilai ISPU harian yang dipantau minimal dua kali sehari. Pada ISPU 101–200 (tidak sehat), tatap muka dibatasi dan anak diarahkan belajar dari rumah; pada ISPU 201–300 (sangat tidak sehat) atau di atas 300 (berbahaya), seluruh peserta didik beralih ke pembelajaran jarak jauh.
Data Kemenkes mencatat 113.336 kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026 di tujuh provinsi terdampak, dengan 26.545 kasus pada balita. IDAI menegaskan: jangan ragu membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat bila muncul sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran.



